Bertemu Mahfud Ikhwan

September memberi saya banyak hadiah, antara lain: lensa antik buatan tahun 1958 dan pertemuan dengan salah satu pengarang Indonesia favorit saya. Malam minggu itu, di toko buku independen kesayangan Post Santa, saya nongkrong di pasar (Santa) bersama para kutu buku. Saya menempelkan lensa antik di kamera digital sensor monokrom untuk mengetes sekaligus mendokumentasikan.

Saya berkenalan dengan Cak Mahfud dengan Aku dan Film India Melawan Dunia. Kemudian Dawuk–yang membuat saya ingin membuat novel grafisnya. Lalu Cerita, Bualan, Kebenaran; Belajar Mencintai Kambing.

Cak Mahfud itu, bisa dibilang pengarang ‘one trick pony’. Motif ceritanya selalu kemiskinan di pedesaan Jawa, buruh migran Malaysia, gembala kambing, Musholla, santri, Muhammadiyah dan NU, sepakbola dan film India. Apabila ada [Haruki] Murakami Bingo, seharusnya bisa kita buat Mahfud Bingo. 

Sebagian yang hadir malam itu memiliki kedekatan emosional dengan kehidupan desa di Jawa. ‘Seperti mendengar dongeng eyang.’ 

Namun bagi saya yang berlatar belakang Jakarta, cerita Cak Mahfud juga tetap memukau. Gaya berceritanya Orwellian–jauh dari glorifikasi atau mengibakan kemiskinan–dicampur dengan realisme magis ala Salman Rushdie.

Orangnya mengaku sebagai penulis yang malas, tapi bukunya yang sudah terbit ada 10 (yang saya tahu, 2009-2022; tiga di antaranye menang penghargaan). Sebagaimana pengarang ulung, karakter-karakter rekaannya merupakan tribut yang terinspirasi tokoh nyata. Sebagai pengarang bertanggungjawab, ia melakukan riset keras untuk membangun realisme fiksinya (salah satunya tentang pengangkutan kayu jati di Jawa pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20). 

Ia juga membatasi diri hanya menceritakan subyek yang dekat dengan dirinya; ia takut meliyankan subyek yang mana ia tidak memiliki kedekatan psikologis.Saat menceritakan soal pengalaman buruh migran di Dawuk, ia sengaja meminjam mulut pembual di warung kopi. Agar pembaca waspada: ini bualan kemplung, jangan dipercaya mentah-mentah. Menghibur, tapi bisa jadi hiperbola.

Sebagai orang yang mencintai seninya, dia patah hati atas kegagalan buku pertamanya Ulid. Edisi pertama bukan saja tidak laku, tapi diterbitkan dengan desain sampul tema Ayat-ayat Cinta. Tapi toh ia tetap menulis; membuat blog tentang film India dan sepak bola, meski tak berharap ada pembaca.

Akhir sesi, kami antri meminta tanda tangan beliau. Meski sudah jam 9 malam, Cak Mahfud masih minum kopi hitam. Post merupakan ruang ber-AC, kalau tidak bisa jadi dirinya merokok sigaret kretek. Di depan mesin tik.

Lulusan Sastra Indonesia yang benar-benar jadi sastrawan. Beberapa orang memanggilnya Dawuk. ‘Padahal saya Warto,’ ujarnya. Saat batas identitas penulis dengan tokoh ciptaannya sudah kabur, di situlah bukti kedigdayaan seorang penulis fiksi.